Family 3

Family 3
Just The Four of Us
Showing posts with label resensi. Show all posts
Showing posts with label resensi. Show all posts

Sunday, June 26, 2016

Resensi Buku : Beyond The Tiger Mom (Part I)





Oke, udah lama ngga ngereview buku, terakhir buku yang ini (How Children Succeed), sama - sama soal pendidikan anak, seperti yang sekarang akan saya review. 


Nah kalau buku Tiger Mom karya Amy Chua kayanya udah banyak yang tau ya..
Gimana cara Amy mendidik anaknya dengan keras agar berhasil. Dari buku tersebut kan kemudian timbul banyak diskusi menarik mengenai pola mendidik anak, sebenernya gaya seperti apa sih yang terbaik? East atau West? 
Gimana kalau kita combine..

Ada kubu Western yang mungkin kiblatnya lebih ke Amerika Serikat, yang lebih mengutamakan bahwa pendidikan itu mengikuti konsep Follow the Child, anak-anak bebas untuk eksplorasi, dan tidak terlalu dibebani dan di "push", ada juga gaya Asia yang mungkin sedikit tercermin dari bukunya Tiger Mom yaitu gaya pendidikan dimana orang tua berperanan membentuk anaknya dengan sedikit keras, dan mungkin kadang otoriter, memaksa anak untuk belajar, mendorong mereka sampai batas atas untuk berhasil, karena Parents knows what's best.

Membaca beberapa buku-buku pengasuhan dari Amerika, membaca metode pendidikan seperti Montessori, juga sempat membaca buku aliran Perancis seperti Bringing Up Bebe, buku nya Ayah Edy, Mona Ratuliu "Parent Think" serta juga mengikuti seminar parentingnya Elly Risman sebenarnya membuat saya sadar bahwa tidak ada gaya pendidikan / pengasuhan yang sempurna 100%. Intinya adalah kita sebagai orang tua harus mengenal anak kita dan menemukan pola apa yang baik dari setiap aliran dan mencoba sebaik mungkin menerapkannya dalam keluarga.. ya karena setiap anak itu unik. Gaya mendidik anak pun dipengaruhi banyak hal seperti gaya didikan orang tua kita dulu, kultur, pendidikan dan pengetahuan kita dan sekarang tentu aja dipengaruhi Social Media ya..
jangan sampe kita ngga paham dan hanya ikut-ikutan aja ya kaaan..

Kembali ke buku Beyond The Tiger Mom yang baru selesai 1 bagian ini , saya merasa buku ini lumayan memberi pencerahan mengenai keunggulan masing-masing metode, dalam hal ini metode Western vs Eastern. 

Penulis yaitu Maya Thiagarajan adalah seorang blesteran India-Amerika yang masa kecil nya dididik di India dengan metode Eastern dimana sosok guru sangat dihormati, dan metode sekolahnya menekankan pada keberhasilan ujian akhir, yaaah.. seperti di Indonesia lah. Selain itu hafalan juga mendominasi metode pendidikannya. Saat di India itu dia merasa nyaman saja dengan metode-metode tersebut. Ketika sudah berumur belasan tahun akhirnya dia pindah ke Amerika, dan akhirnya menjadi guru disana. Sempat merasakan mengajar di sekolah untuk kalangan menengah ke bawah di AS, dan juga mengajar di sekolah privat kelas atas, membuatnya banyak mengetahui metode pendidikan AS yang menekankan pada konsep Follow then Child , tanpa hapalan dan penuh dengan stimulasi untuk menekankan kreativitas anak. Ia sendiri memiliki 2 anak. Saat anak pertamanya berusia 5 tahun (kalo ngga salah yaaa. :D) Ia dan suaminya pindah ke Singapura, dan akhirnya merasakan metode pendidikan Asia (At its best). Di Singapura inilah dia akhirnya dapat membandingkan kedua metode pendidikan dari 2 tempat yang terbaik namun memiliki perbedaan.. Penulis banyak mewawancarai orangtua dan pendidik di Singapura serta Amerika dalam menulis buku ini.

#1 Matematika 
Di Singapura Ia melihat dan mengamati bahwa para orangtua sangat menekankan bahwa anak-anak mereka harus bisa matematika, mereka sangat memperhatikan kemampuan matematika anak mereka, karena mereka sangat menginginkan anak-anak mereka berhasil dalam hidup dengan memperoleh pekerjaan yang baik. Pekerjaan yang baik untuk masa depan menurut para orang tua tersebut adalah dalam bidang STEM (science, technology, engineering dan mathematics). Daan.. pastilah keahlian matematika adalah kuncinya. Disini pun penulis menyoroti bahwa di setiap kompetisi matematika tingkat internasional memang kebanyakan pemenangnya adalah dari Asia, walaupun mungkin orang AS, tapi sebagian besar keturunan Asia. Disini penulis juga mengakui keunggulan pendidikan Asia dalam hal matematika. Kalau menurut Malcom Gladwell di Buku Outliers nya keunggulan matematika orang Asia karena pengaruh bahasa, dimana penyebutan angka-angka lebih simple dari bahasa Inggris, jadi bangsa Asia memiliki keunggulan dimana anak-anak kecil lebih cepat bisa berhitung karena kesederhanaan penyebutan angka, namun Maya juga menekankan keunggulan tersebut juga akhirnya dilengkapi dengan metode pendidikan yang sangat mengagungkan matematika. Bahkan di negara-negara Asia tidak jarang orang tua memberi les tambahan seperti Kumon atau Abacus untuk melatih matematika.. di Indonesia pun begitu. Di Asia pendekatan untuk mahir matematika adalah Drill and Grill, jadi makin banyak latihan pasti makin baik, karena bila seorang anak sudah sangat paham perkalian dengan cara hafal tabel perkalian, maka akan lebih mudah untuk mengerjakan soal-soal matematika. 

Berbeda dengan gaya Amerika yang saya baca dan sedikit saya observasi dari pendekatan montessori bahwa anak diharapkan paham dulu konsepnya, dan tidak dipaksa menghafalkan tabel perkalian atau di drill dengan soal-soal latihan yang sangat banyak. Menurut kebanyakan metode Western.. Drill = Kill.. yaitu kebanyakan latihan -latihan hanya akan mematikan kreativitas anak.

Disini penulis memang saya lihat lebih condong terhadap gaya Asia dalam hal pelajaran matematika yaitu, tidak ada salahnya men-drill anak-anak terhadap soal-soal matematika karena penulis melihat bahwa metode yang ada di Singapura tersebut menjadikan anak-anak menyukai matematika, karena biasa berlatih mereka pun bisa dan akhirnya pelajaran matematika tidak menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian besar anak Singapura. 
Hal yang menarik adalah ketika para orangtua Singapura menyampaikan kenapa mereka harus men-drill anak mereka sampai batas, mendorong anak mereka....
yaaah cenderung Tiger Mom semua lah, karena mereka beranggapan di Asia ini tidak seperti di AS, 
Sedangkan di negara-negara Asia, setiap orang harus berusaha dengan keras agar bisa sukses, harus menjadi yang terbaik, karena rata-rata negara berkembang, Asia masih harus mengejar sukses itu. Kalau anak-anak tidak dipersiapkan dengan sangat baik, bagaimana bisa bersaing? Berbeda dengan di AS atau Eropa yang menurut mereka, hidup lebih mudah, sehingga anak-anak pun dibebaskan kreatif, tidak ada tekanan untuk menjadi yang terbaik.

Naah gaya-gaya Asia ini pasti mengingatkan kita sama masa kecil kita yaaa, pas kecil  saya sekolah di sekolah Katolik, jangan harap bisa pulang kalau belum hapal perkalian.. pe er matematika pun berjibuun..
Makanya ada kecenderungan bahwa saya nggak ingin anak saya menjadi penghapal seperti itu, saya ingin anak saya bisa paham juga konsepnya matematika, tidak sekedar jadi robot. Namun kalau menurut penulis asal kita bisa juga menanamkan konsep matematika selain menghapal tabel perkalian, maka drill and grill tidak salah juga...
Hmmmmm pe er nih buat para ortu.. selain ngasi latihan yang banyak untuk matematika, jangan lupa diajarin konsepnya juga.. Kalau di Singapura sih udah bagus katanya integrasinya ini... nah kalau di Indonesia pe er ya buat para ayah bunda "^^

Ada beberapa tips dari Penulis untuk menjadikan rumah kita "Math-Rich" diantaranya adalah :
- bermain board games seperti ular tangga dan monopoli
- memakai abakus/ sempoa
- memasukkan konsep matematika dalam keseharian, misalnya ketika berbelanja
- konsep visual spatial bisa dikenalkan via permainan lego
dan lain-lain

Oke 1 - 0 untuk East yaa..

#2 Membaca
Kalau menurut penulis soal membaca memang Western lebih unggul, karena menurutnya di AS sana sejak anak dalam kandungan dah dibacain cerita, anak bayi dibacain cerita, tiap malam reading itu wajiiib...
Gak sekedar reading, tapi bener-bener dibahas tuh buku... makanya ngga heran ya sebagian besar buku asalnya ya dari West sanaaa..
nah bedanya ama metode Asia, membaca itu kebanyakan hanya di permukaan aja, anak-anak Asia umur 5 tahun dah bisa membaca karena diajarkan membaca sejak kecil, mungkin kalo di Indonesia ya .. B  + A = BA, B + U = BU sejak dari TK, tapi mungkin kalau ditanya apa buku favoritnya dan ceritakan soal buku itu ngga bisa.. Beda dengan anak-anak Western yang sudah punya buku favorit sejak kecil.
Saya yang termasuk agak sering membacakan cerita pun akhirnya ngetes kakak dengan pertanyaan "apa buku favorit kakak?" dan ternyata jawabannya "buku menulis",... jawaban yang tidak diharapkan .. :D , setelah diarahkan baru deh jawab.. "Cerita Snow White" 
hmmm berarti saya kurang sering bacainnya ya.. hehehe "^^

Di Asia memang kebanyakan anak diajar membaca karena ya membaca itu penting untuk bisa belajar.. thats it.. tapi tidak secara mendalam, apalagi memahami sastra.. mendiskusikan buku dan nilai-nilainya, tidak diajarkan mencintai buku.
Saya cukup beruntung ketika dulu sempat ikut papa tugas belajar di Inggris, mencicipi budaya membaca yang sangat bagus.. Setiap pagi setelah assembly, semua murid dikumpulkan untuk dibacakan buku dan hal itu yang membuat dalam 3 bulan saya langsung bisa mengerti bahasa Inggris tanpa kursus macem-macem.. tapi ya namanya masih umur 10 tahun masih seperti spon kali ya otak. Saya juga menikmati sering ke perpustakaan untuk meminjam buku :), disitu waktu ke perpustakaan adalah saat yang sangat ditunggu-tunggu.
Nah tantangan dunia jaman sekarang, buku mendapat persaingan yang sangat banyak, seperti gadget, socmed, dan games.. ini tantangan kita sebagai orang tua. 
Orangtua disarankan tetap memberikan buku yang kertas dan bukan ebook, karena ebook di gadget dan membuat anak tidak fokus membacanya.. malah nanti ngegame..

Disini penulis menekankan kembali bahwa buku itu memang jendela dunia, buku bisa membawa kemana aja.. dan cinta akan buku bisa membawa seorang anak lebih memiliki banyak kosakata dan lebih berpengetahuan... 

Ada beberapa tips agar rumah kita "language-rich"
- Kelilingi anak-anak dengan buku bagus
- Berikan teladan bahwa membaca itu menyenangkan
- Bacakan buku setiap hari 
- Jadi anggota perpus 
- Jangan marahi anak ketika asik membaca buku, misalnya dengan mengatakan ngapain baca buku terus.. karena mungkin disaat itu dia lagi berpetualang dalam pikirannya.
Dan lain -lain

Ada tips juga buat para ortu ketika mencari sekolah anak yaitu selain melihat fasilitas sekolah seperti lapangan bermain, lab komputer, dll, cek juga ada ngga perpustakaannya..
Hmmmm .. Noted :)

Soo... 1-1 buat East vs West

Oke karena anak-anak udah cranky minta bobo.. sekian part 1..
semoga bisa dilanjut part 2 nya yaa.. 



Saturday, February 1, 2014

How Children Succeed - Review Buku


How Children Succeed - Grit , Curiosity and The Hidden Power of Character – Paul Tough

Long wiken gak kemana2.. ya sudah lah bikin resensi buku ke-dua J

Sebenarnya buku ini dah lama banget dibacanya, sebelum baca buku Lean In. Tapi baru sempet sekarang me-review nya. Semoga masih inget ya pointers nya.

Asli emang sekarang lagi suka baca-baca buku soal parenting, pendidikan dan karir.. emang faktor “U” kali ya.. emang “U” saya sekarang hal-hal tersebut lah yang penting.. ntar lain kali klo ada waktu mungkin bikin review buku 50 shades.. #eh.. heheheh.. bukunya aja blm punya kalo itu.. suwer :p.      
Kali aja ada yg mau minjemin boleh kakak.. :D XD

Oke waktunya serius sekarang..

Karena buku ini ditulis oleh orang Amerika, sedikit banyak membahas masalah pendidikan di sana.. beberapa hal bisa berlaku universal sih. Negara superpower seperti Amerika pun memiliki masalah mengenai pendidikan, dimana hal yang menjadi masalah adalah biasanya di daerah daerah miskin yang kebetulan banyak warga African American yang bermasalah dengan gangster, narkoba ataupun banyaknya single mothers. Anak-anak dari daerah tersebut yang biasanya lebih miskin memiliki nilai yang lebih rendah dari pada sebayanya yang berasal dari keluarga mampu. Dan bagaimana kebijakan publik bisa dilakukan oleh pemerintah untuk menangani isu tersebut. Bagaimana bisa menjadikan anak-anak dari daerah miskin bisa bersaing dengan anak-anak lainnya.

Isu nya sangat kompleks, begitu juga buku ini saya rasa sangat kompleks membahas isu pendidikan tersebut. Banyak contoh-contoh yang disampaikan oleh penulis. Banyak sekali riset untuk menemukan sebenarnya faktor apa sih yang paling berpengaruh yang harus dimiliki anak-anak untuk dapat berhasil.

Yang bikin kagum dari buku-buku luar negeri memang semua riset yang harus dilakukan untuk menulis sebuah buku, jadi bukan hanya pendapat penulisnya saja. Tapi memang didasari oleh riset  sebelumnya. Saya masih menunggu nih ada ngga riset pendidikan di Indonesia. Jadi kurikulum bukan ganti-ganti begitu saja setiap ganti menteri. Kalaupun harus ganti ada dasarnya.. Bukan hanya studi banding atau mencontek negara lain. Karena tiap negara punya karakter, budaya dan masalah yang berbeda. Kebijakan pendidikan harusnya memang country specific. Apalagi di Indonesia banyak suku bangsa.. harusnya bisa culture specific.

Yang disampaikan penulis juga bahwa saat ini kita hidup di dunia dimana sukses semata-mata dinilai dari hal-hal yang kognitif - yaitu kecerdasan yang biasanya diukur dengan IQ. Dan cara terbaik untuk meningkatkan kecerdasan adalah dengan cara mempelajari hal-hal kognitif sedini mungkin. Misalnya mulai belajar baca tulis sedini mungkin. Hal tersebut benar misalnya adalah bila seorang anak kelas 4 SD ingin meningkatkan kemampuan membaca, maka membaca 40 buku selama liburan kenaikan kelas pasti akan meningkatkan kemampuannya. Namun bagaimana caranya meningkatkan hal hal yang tidak bisa diukur seperti meningkatkan rasa keingintahuan.

Salah satu riset menarik mengenai IQ adalah bahwa sebenarnya IQ juga dipengaruhi motivasi. IQ tidak seperti yang dahulu dipercaya bahwa IQ itu faktor dari lahir, dan seseorang dengan IQ yang rendah akan selamanya rendah.

Riset yang dilakukan pada tahun 60an ini membagi 79 anak dalam dua kelompok berumur 5 – 7 tahun yang berasal dari keluarga menengah ke bawah (Kelompok kontrol dan eksperimen). Pada tes pertama kedua kelompok diberikan tes IQ standar yang sama. Tujuh minggu kemudian anak-anak tersebut di tes kembali, namun kelompok eksperimen diberikan 1 buah coklat M&M untuk setiap jawaban yang benar. Pada test pertama kedua kelompok mendapat hasil yang sama, namun di test kedua terdapat perbedaan 12 point lebih tinggi pada kelompok eksperimen. Ternyata adanya motivasi yaitu reward berupa coklat M&M dapat meningkatkan kecerdasan??

Beberapa tahun kemudian dilakukan kembali test yang hampir sama, dimana pada test pertama semua anak digabung dan diberi test yang sama. Kemudian berdasarkan hasil tersebut dibagi tiga kategori yaitu IQ tinggi, IQ sedang dan IQ rendah. Kemudian ketiga kategori tersebut dibagi dua, yaitu kelompok kontrol dan eksperimental. Seperti sebelumnya setiap kelompok eksperimen dijanjikan 1 coklat M&M untuk setiap jawaban benar. Hasilnya, coklat M&M tidak terlalu merubah hasil pada kategori IQ tinggi dan IQ sedang, namun pada IQ rendah terjadi kenaikan hasil test yang signifikan. Hasil test kategory IQ rendah yang diberi M&M bahkan hampir menyamai kategori IQ sedang. Pertama hasil nya adalah 79 namun setelah diberi M&M menjadi 97.

Pertanyaannya kemudian adalah.. apakah benar anak-anak tersebut memiliki IQ rendah atau mereka sebenarnya tidak begitu.

Apakah seumur hidup harus diberikan reward M&M untuk setiap jawaban yang benar.. padahal, ketika kita belajar reward itu pasti akan ada. Walaupun tidak senyata dan secepat reward M&M , rewardnya adalah kemungkinan besar sang anak bisa lulus sekolah dengan nilai baik. Namun tiap pendidik tahu bahwa tidak semudah itu untuk memberi motivasi pada seorang anak agak berhasil demi reward yang belum terlihat di masa depannya.

Hal mengenai motivasi amatlah kompleks dan bahkan bisa menjadi senjata makan tuan. Hal ini dibuktikan dengan riset lainnya dimana memberi insentive bagi guru dan murid untuk nilai yang bagus ternyata tidak banyak meningkatkan hasil test lainnya seperti test membaca.

Analisa lain dari test IQ dan motivasi tersebut adalah benar bahwa anak-anak tersebut memang sebenarnya memiliki IQ 97 tapi mereka tidak memiliki keinginan kuat untuk berhasil makanya di test pertama skornya hanya 79. Faktor kurangnya kemauan tersebut sebetulnya adalah prediktor yang lebih akurat untuk kesukseksesan.. dimana kurangnya kemauan untuk berusaha keras pada anak-anak tersebut dapat terbawa sampai dewasa. Jadi sekarang faktornya adalah bagaimana meningkatkan rasa kemauan kuat tersebut. Kuncinya bukan lah semata IQ untuk berhasil.. tapi KARAKTER..

Menurut buku ini ada beberapa Karakter yang penting untuk dimiliki yaitu :

Grit (passionate commitment to a single mission), Self Control , Zest (enjoyment and enthusiasm) , Social Intelligence, Gratitude, Optimism dan Curiosity .

Dalam buku ini , penulis menyampaikan bahwa seperti hal nya kecerdasan terukur seperti kemampuan bahasa dan matematika, maka karakter pun bisa dibentuk dan diperbaiki. Penelitian pada anak-anak yang percaya bahwa kecerdasan dan karakter mereka bisa ditingkatkan, maka hasil testnya lebih baik daripada anak-anak yang percaya bahwa kecerdasan yang mereka miliki adalah dari lahir dan tidak bisa ditingkatkan lagi.



 


Faktor lain yang dibahas adalah juga pentingnya attachement parenting atau grooming di awal-awal kehidupan seorang anak. Hal ini dibuktikan dengan eksperimen pada sekelompok anak tikus lab. Dimana anak tikus yang mendapatkan grooming dari induknya cenderung untuk lebih cerdas ketika dihadapkan pada masalah. Anak-anak tikus yang diperhatikan oleh induknya (groomed) akan lebih cepat mencari makanan. Sebaliknya pada anak-anak tikus yang tidak di groomed oleh induknya, mereka kurang cerdas dan akhirnya bisa kelaparan.
Hal ini seperti nya common sense saja ya, kalau melihat anak-anak yang kurang perhatian orang tua memang cenderung bermasalah juga di sekolah. Namun ternyata nice to know bahwa memang ada penelitian yang mendukung hipotesa itu.
Hal tersebut menjadi pengingat akan pentingnya kasih sayang di awal-awal kehidupan anak.

Salah satu kesimpulan Penulis dari buku ini adalah :

Seperti kebanyakan orang tua lain yang awalnya khawatir bahwa anaknya tidak akan sukses bila tidak dibombardir dengan CD Mozart, Flashcard , dan kemampuan baca tulis sedini mungkin. Namun ternyata riset –riset yang ia temui selama menulis buku ini menunjukkan arah lain. Benar bahwa tahun-tahun pertama seorang anak sangatah penting dalam perkembangan otak seorang anak, namun kemampuan paling signifikan yang dapat diberikan pada seorang anak bukan lah hal-hal yang didapat dari flashcard . Bukan tidak perduli pada kemampuan membaca atau menulis anaknya, namun ia percaya bahwa kemampuan itu akan datang dengan sendirinya karena orang tuanya suka membaca dan rumahnya penuh dengan buku. Yang justu harus dibangun dan diarahkan sedini mungkin adalah karakternya.

Ya mungkin segitu dulu reviewnya.. lumayan banyak insight namun sepertinya kalau ingin benar2 komprehensif harus membaca sendiri bukunya.. bisa dibeli di Books & Beyond , harganya lupa .
200 halaman , Bahasa Inggris.

 J

 

Sunday, December 22, 2013

Resensi Buku : LEAN IN - Women, Work, and The Will To Lead




Lean In – Women , Work and The Will To Lead

Kali ini saya akan menulis resensi buku diatas, mudah2an ini bukan resensi pertama saya di blog ini J

Buku ini ditulis oleh Sheryl  Sanberg , Chief Operating Officer di Facebook , salah satu 50 wanita paling berpengaruh menurut majalah Fortune dan 100 Orang paling berpengaruh versi majalah Time.

Pada Tahun 2010, ia memberikan TEDTalk dimana ia menyatakan bahwa wanita, secara tak sadar menahan diri dalam karirnya. Dia menulis buku ini berdasarkan pengalamannya sendiri dalam mengambil keputusan, kesalahan-kesalahan dan perjuangannya tiap hari untuk dapat membuat keputusan yang tepat untuk diri nya sendiri, untuk karirnya dan untuk keluarganya.

Saya  rasa buku ini cocok dibaca oleh ibu-ibu muda yang baru meniti karir dan baru dalam membentuk keluarga. Banyak ibu muda seperti saya yang pasti sering sekali menghadapi dilema dalam bekerja. Galau… bagaimana menyiasati dan menyeimbangkan semuanya.

Karena saya sudah selesai membaca buku ini, maka saya hanya akan menghighlight bagian-bagian yang saya rasa menarik.

Fakta di Amerika 57% dari lulusan undergraduate dan 60% dari lulusan Master’s degree adalah wanita, namun saat di dunia kerja wanita memiliki penghasilan 77% dari pria .

Dewasa ini, sudah banyak sekali kesempatan yang dibuka bagi wanita di dunia kerja, namun ternyata halangan kemajuan wanita, bukan lagi dari luar, bukan lagi diskriminasi dari para pria, namun ternyata halangan terbesar adalah dari diri wanita itu sendiri.

Sheryl mencontohkan bagaimana sebagian wanita kurang memiliki ambisi dalam bekerja, dalam rapat-rapat mereka cenderung untuk hanya diam dan takut dalam mengemukakan pendapatnya.

Dalam acara-acara jamuan makan malam, dimana para pria akan mengambil tempat strategis di meja kehormatan, berusaha untuk dapat menyapa para direksi, para wanita akan berkumpul di meja belakang bersama para wanita lainnya. Padahal tidak ada larangan bagi wanita untuk duduk di meja depan.

Hal lain mengenai gaji, pria berani untuk meminta gaji lebih, namun biasanya wanita lebih menahan diri untuk hal ini.

Hal yang menarik adalah ketika seorang pria diberikan suatu pekerjaan yang menantang, pria cenderung untuk mengoverestimate kemampuannya.. Para pria akan yakin 100%mereka mampu, walaupun sebenarnya  diatas kertas kemampuan mereka hanya 60% saja. Berbeda dari para wanita yang diberikan tantangan baru tersebut, walaupun para wanita tersebut kemampuannya 80% diatas kertas, namun mereka justru akan mengunderestimate kemampuan diri sendiri dan para wanita justru fokus kepada kelemahan2 yang mereka miliki. Dibandingkan pria yang fokus pada kekuatannya, para wanita cenderung lebih fokus kepada kelemahan yang mereka miliki walaupun hanya sedikit.

Pola pikir seperti ini yang harus dirubah oleh wanita di dunia kerja.

Memang tidak mudah menjadi wanita bekerja.. Harus ada dukungan dari suami.. Itu pasti.  Hal ini disampaikan dalam bab “Make your partner a real partner”

Disini Sheryl menyatakan bahwa ia dan suaminya membagi tugas tugas rumah tangga dan pengasuhan anak 50%: 50%. Di awal semua jadwal sudah dipersiapkan, siapa yang pada hari apa akan menjemput dan mengantar anak. Siapa yang akan menemani saat ada kegiatan dengan anak.

Memang harus ada komitmen, sesibuk apapun Sheryl, ia mengusahakan sudah di rumah saat makan malam. Dan pasti ada juga saat saat ia rapat sampai larut malam, dimana suaminya lah yang akan makan bersama anak-anak. Begitu pula sebaliknya saat suaminya sibuk.

Tentu saja hal ini harus disepakati diawal bersama dengan pasangan hidup .

Sebagai wanita yang kodratnya adalah hamil dan melahirkan, Sheryl pun pernah merasakan set back dalam karirnya. Saat merencanakan hamil anak kedua, ia pernah ditawari posisi sebagai COO LinkedIn. Posisi yang harus ia tolak karena lebih mementingkan program kehamilan kedua. Namun keputusan seperti itu harus dijalani tanpa terlalu banyak penyesalan.

Buktinya setelah melahirkan anak kedua, ia ditawari posisi sebagai COO Facebook.

Bab “It’s a Jungle Gym not a Ladder” Sheryl memberikan nasihat mengenai karir, bahwa dalam karir sekarang ini, tidak seperti tangga ke atas, namun kadang kita harus menerima rotasi kesamping, bahkan terkadang harus turun tangga untuk mencapai posisi yang baik. Sebagai wanita juga harus terbuka terhadap tiap kesempatan.

Nasehat yang ia sampaikan dalam bab “Don’t leave Before you Leave”, adalah bahwa bila belum saatnya harus berhenti dari perkerjaan.. jangan berhenti duluan, jangan kalah duluan.

Beberapa wanita yang bahkan belum menikah dan punya anak, menahan diri dari karirnya dengan alasan bahwa mereka suatu hari akan menikah dan punya anak, dan pasti mereka tak akan bisa bekerja penuh tantangan.. Helloo … punya pacar pun belum kenapa mikir sejauh itu..

Ada juga ketika menikah langsung menolak tantangan dalam bekerja, padahal belum hamil, dan kalaupun hamil masih ada 9 bulan untuk bisa bekerja dengan baik.

Jadi jangan berhenti.. sebelum memang harus berhenti..

Ini agak jleb juga sih buat saya, yang kadang suka juga berpikir seperti ini.. padahal mungkin lebih baik untuk memikirkannya nanti saja kalau memang sudah kejadian..

Dalam “The Myth of Doing It all”, Sheryl menceritakan awal-awal menjadi seorang ibu di Facebook.

Ia memiliki karir yang bagus dan ketika punya anak, ia pun tak ingin tampil tidak profesional , dan telihat seperti “emak-emak” yang tidak kredibel dalam bekerja. Alhasil ia pun harus bekerja lebih keras dari rekan prianya, bangun jam 5 pagi untuk membalas email, sambil menyusui. Bangun lebih malam, setelah menyusui bekerja lagi. Terkadang teleconference sambil menyusui dan mengurus bayi. Ia ingin tetap perform dalam pekerjaan. 6 bulan pertama nya sangatlah berat.

Namun lambat laun, Ia mulai bisa membagi waktunya.. dan menerima bahwa memang tidak semua bisa dilakukan .

 Rasa bersalah meninggalkan anak ketika harus keluar kota ataupun rapat sampai larut malam akan selalu ada.. itulah bedanya dengan pria.. Pria tidak punya rasa bersalah seperti itu ketika harus dinas ataupun lembur.

Selalu ada semacam timbangan yang seolah olah menimbang waktu wanita pekerja dengan anak-anak mereka.

Suatu penelitian dari National Institute of Child Health and Human Development mengenai pengasuhan dan perkembangan anak, terutama mengenai pengasuhan ibu yang ekslusif vs child care, yang meneliti seribuan anak-anak selama 15 tahun menyimpulkan bahwa, anak yang diasuh secara eksklusif oleh ibunya saja, tidak memiliki perbedaan perkembangan dengan anak yang diasuh dengan bantuan orang lain (misal nanny atau child care). Tidak ada perbedaan kemampuan kognitif, bahasa, sosial, dan kemampuan membina hubungan.

Faktor-faktor dalam pola pengasuhan – termasuk peranan aktif ayah yang responsif dan positif, ibu yang memiliki sikap “membebaskan sikap anak” dan orangtua yang harmonis, lebih mempengaruhi perkembangan anak dua sampai tiga kali lipat dibandingkan pola pengasuhan lainnya.

Jadi hal ini harus dibaca pelan-pelan nih “ Pengasuhan ekslusif oleh ibu tidak berpengaruh terhadap lebih baik atau lebih buruk perkembangan seorang anak”  sooo tidak ada alasan bagi seorang ibu untuk merasa bahwa mereka membahayakan perkembangan anak dengan memutuskan untuk bekerja.

Tujuan akhir dari Sheryl adalah bahwa wanita harus lebih berani dalam mengejar karirnya, harus berani dalam berdiskusi dengan pasangan hidup akan peranan seimbang dalam berkarir dan rumah tangga.. Karena bila makin banyak wanita di posisi atas, maka diharapkan akan lebih banyak juga kebijakan pro wanita dalam lingkungan kerja, yang pada akhirnya dapat mendukung wanita dalam berkarir. Karena kalau bukan wanita siapa lagi yang akan memperjuangkan kesejahteraan wanita dalam pekerjaan.

Namun memang buku ini lebih applied pada wanita-wanita yang memang memiliki pilihan untuk berkarir. Beberapa wanita tidak punya pilihan seperti itu dimana memang mereka tidak punya biaya untuk childcare yang baik untuk mendukung karirnya, sehingga memang opsinya hanya sebagai ibu yang dirumah.

Tidaksemua wanita memiliki ambisi untuk mencapai posisi puncak dalam bekerja.. Hal itu tidak masalah, yang penting adalah ketika sudah menemukan sesuatu yang disukai untuk dikerjakan, apapun itu.. Lean In.. atau dalam hal ini terjemahan bebas saya untuk Lean in adalah.. kalau sudah masuk di suatu pekerjaan, maka jangan hanya diluar saja, jangan dikulitnya saja, tapi harus benar-benar “lean in” Nyemplung kali ye.. sampai basahhhh.
Kalo penasaran bukunya bisa dibeli di Books and Beyond.. Harga 180rb setelah diskon natal 20%. 180 halaman, Bahasa Inggris.

Happy reading :)