Family 3

Family 3
Just The Four of Us

Sunday, April 16, 2017

Kuasa Yang Menentukan

(Refleksi Paskah 2017)
oleh Johanes Anton Witono

Gambar : Tablo Kisah Sengsara Yesus Kristus di Gereja Regina Pacis, Balikpapan

Paskah merupakan peringatan Kebangkitan Yesus Kristus. Namun, tahun ini, selain kurban, wafat dan kebangkitan Tuhan, saya juga mendapatkan refleksi lain yang berkaitan dengan Paskah yaitu tentang Kuasa. Refleksi ini saya dapatkan diantara mengikuti prosesi Tablo menjelang Jumat Agung.

Pada kisah sengsara Tuhan, sadar atau tidak, kita dapat mengamati beberapa kuasa yang terlibat dan bagaimana kuasa tersebut digunakan atau tidak digunakan, misalnya:
  • Pilatus yang memiliki kuasa untuk membebaskan Yesus, namun karena ingin menyenangkan orang banyak dan juga mengamankan jabatannya memilih menyerahkan Yesus untuk disalibkan;
  • Petrus yang memiliki kuasa atas dirinya sendiri untuk mengakui Yesus sebagai guru, memilih menyangkalnya karena rasa takut. Setelah itu ia menyesal, dan kemudian menjadi tokoh penting dalam sejarah pendirian Gereja;
  • Yesus yang memiliki kuasa paling tinggi sebagai Tuhan dan Allah, memilih tidak menggunakan kuasa tersebut dan rela menderita dan disalibkan agar dosa Manusia ditebus dan agar banyak Manusia bisa meneladan Kasih tanpa batas seperti yang Ia contohkan sendiri.

Kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan kuasa sebagai:  kemampuan atau kesanggupan (untuk berbuat sesuatu); kekuatan; wewenang atas sesuatu atau untuk menentukan;  pengaruh yang ada pada seseorang karena jabatanya.

Kita, sebagai Manusia, baik sebagai pribadi/ individu maupun dalam kelompok/ komunitas, memiliki juga kuasa yang melekat atas diri kita, misalnya :
  • Sebagai Pimpinan di Perusahaan, kita memiliki kuasa terhadap pengambilan kebijakan dan kebijakan terhadap karyawan;
  • Sebagai Pengajar, kita memiliki kuasa terhadap materi didik dan pembinaan pendidikan siswa;
  • Sebagai Suami/ Kepala Rumah Tangga, kita memiliki kuasa terhadap keputusan-keputusan penting dalam keluarga;
  • Sebagai pribadi, kita memiliki kuasa untuk membuat pilihan-pilihan dalam hidup ini, baik itu mengejar cita-cita pribadi maupun membantu/ melayani orang lain.
  • Dan lain sebagainya.

Melalui Paskah ini, mari kita merenungkan bersama, kuasa apa saja yang kita miliki sebagai pribadi maupun dalam keluarga, kelompok, komunitas, tempat kerja? Sudahkah kuasa tersebut kita pakai dengan benar? Apakah kita masih memiliki ketakutan untuk menggunakan kuasa tersebut? Untuk siapa, kuasa tersebut kita gunakan? Maukah kita menggunakan kuasa tersebut untuk memberikan kebaikan bagi orang lain diatas kepentingan kita sendiri, seperti teladan Yesus Kristus. Semoga dengan Kebangkitan Kristus yang telah mengalahkan kematian, kita pun mampu bangkit menjadi Manusia yang baru. Selamat Paskah 2017. Tuhan memberkati.

Sunday, June 26, 2016

Resensi Buku : Beyond The Tiger Mom (Part I)





Oke, udah lama ngga ngereview buku, terakhir buku yang ini (How Children Succeed), sama - sama soal pendidikan anak, seperti yang sekarang akan saya review. 


Nah kalau buku Tiger Mom karya Amy Chua kayanya udah banyak yang tau ya..
Gimana cara Amy mendidik anaknya dengan keras agar berhasil. Dari buku tersebut kan kemudian timbul banyak diskusi menarik mengenai pola mendidik anak, sebenernya gaya seperti apa sih yang terbaik? East atau West? 
Gimana kalau kita combine..

Ada kubu Western yang mungkin kiblatnya lebih ke Amerika Serikat, yang lebih mengutamakan bahwa pendidikan itu mengikuti konsep Follow the Child, anak-anak bebas untuk eksplorasi, dan tidak terlalu dibebani dan di "push", ada juga gaya Asia yang mungkin sedikit tercermin dari bukunya Tiger Mom yaitu gaya pendidikan dimana orang tua berperanan membentuk anaknya dengan sedikit keras, dan mungkin kadang otoriter, memaksa anak untuk belajar, mendorong mereka sampai batas atas untuk berhasil, karena Parents knows what's best.

Membaca beberapa buku-buku pengasuhan dari Amerika, membaca metode pendidikan seperti Montessori, juga sempat membaca buku aliran Perancis seperti Bringing Up Bebe, buku nya Ayah Edy, Mona Ratuliu "Parent Think" serta juga mengikuti seminar parentingnya Elly Risman sebenarnya membuat saya sadar bahwa tidak ada gaya pendidikan / pengasuhan yang sempurna 100%. Intinya adalah kita sebagai orang tua harus mengenal anak kita dan menemukan pola apa yang baik dari setiap aliran dan mencoba sebaik mungkin menerapkannya dalam keluarga.. ya karena setiap anak itu unik. Gaya mendidik anak pun dipengaruhi banyak hal seperti gaya didikan orang tua kita dulu, kultur, pendidikan dan pengetahuan kita dan sekarang tentu aja dipengaruhi Social Media ya..
jangan sampe kita ngga paham dan hanya ikut-ikutan aja ya kaaan..

Kembali ke buku Beyond The Tiger Mom yang baru selesai 1 bagian ini , saya merasa buku ini lumayan memberi pencerahan mengenai keunggulan masing-masing metode, dalam hal ini metode Western vs Eastern. 

Penulis yaitu Maya Thiagarajan adalah seorang blesteran India-Amerika yang masa kecil nya dididik di India dengan metode Eastern dimana sosok guru sangat dihormati, dan metode sekolahnya menekankan pada keberhasilan ujian akhir, yaaah.. seperti di Indonesia lah. Selain itu hafalan juga mendominasi metode pendidikannya. Saat di India itu dia merasa nyaman saja dengan metode-metode tersebut. Ketika sudah berumur belasan tahun akhirnya dia pindah ke Amerika, dan akhirnya menjadi guru disana. Sempat merasakan mengajar di sekolah untuk kalangan menengah ke bawah di AS, dan juga mengajar di sekolah privat kelas atas, membuatnya banyak mengetahui metode pendidikan AS yang menekankan pada konsep Follow then Child , tanpa hapalan dan penuh dengan stimulasi untuk menekankan kreativitas anak. Ia sendiri memiliki 2 anak. Saat anak pertamanya berusia 5 tahun (kalo ngga salah yaaa. :D) Ia dan suaminya pindah ke Singapura, dan akhirnya merasakan metode pendidikan Asia (At its best). Di Singapura inilah dia akhirnya dapat membandingkan kedua metode pendidikan dari 2 tempat yang terbaik namun memiliki perbedaan.. Penulis banyak mewawancarai orangtua dan pendidik di Singapura serta Amerika dalam menulis buku ini.

#1 Matematika 
Di Singapura Ia melihat dan mengamati bahwa para orangtua sangat menekankan bahwa anak-anak mereka harus bisa matematika, mereka sangat memperhatikan kemampuan matematika anak mereka, karena mereka sangat menginginkan anak-anak mereka berhasil dalam hidup dengan memperoleh pekerjaan yang baik. Pekerjaan yang baik untuk masa depan menurut para orang tua tersebut adalah dalam bidang STEM (science, technology, engineering dan mathematics). Daan.. pastilah keahlian matematika adalah kuncinya. Disini pun penulis menyoroti bahwa di setiap kompetisi matematika tingkat internasional memang kebanyakan pemenangnya adalah dari Asia, walaupun mungkin orang AS, tapi sebagian besar keturunan Asia. Disini penulis juga mengakui keunggulan pendidikan Asia dalam hal matematika. Kalau menurut Malcom Gladwell di Buku Outliers nya keunggulan matematika orang Asia karena pengaruh bahasa, dimana penyebutan angka-angka lebih simple dari bahasa Inggris, jadi bangsa Asia memiliki keunggulan dimana anak-anak kecil lebih cepat bisa berhitung karena kesederhanaan penyebutan angka, namun Maya juga menekankan keunggulan tersebut juga akhirnya dilengkapi dengan metode pendidikan yang sangat mengagungkan matematika. Bahkan di negara-negara Asia tidak jarang orang tua memberi les tambahan seperti Kumon atau Abacus untuk melatih matematika.. di Indonesia pun begitu. Di Asia pendekatan untuk mahir matematika adalah Drill and Grill, jadi makin banyak latihan pasti makin baik, karena bila seorang anak sudah sangat paham perkalian dengan cara hafal tabel perkalian, maka akan lebih mudah untuk mengerjakan soal-soal matematika. 

Berbeda dengan gaya Amerika yang saya baca dan sedikit saya observasi dari pendekatan montessori bahwa anak diharapkan paham dulu konsepnya, dan tidak dipaksa menghafalkan tabel perkalian atau di drill dengan soal-soal latihan yang sangat banyak. Menurut kebanyakan metode Western.. Drill = Kill.. yaitu kebanyakan latihan -latihan hanya akan mematikan kreativitas anak.

Disini penulis memang saya lihat lebih condong terhadap gaya Asia dalam hal pelajaran matematika yaitu, tidak ada salahnya men-drill anak-anak terhadap soal-soal matematika karena penulis melihat bahwa metode yang ada di Singapura tersebut menjadikan anak-anak menyukai matematika, karena biasa berlatih mereka pun bisa dan akhirnya pelajaran matematika tidak menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian besar anak Singapura. 
Hal yang menarik adalah ketika para orangtua Singapura menyampaikan kenapa mereka harus men-drill anak mereka sampai batas, mendorong anak mereka....
yaaah cenderung Tiger Mom semua lah, karena mereka beranggapan di Asia ini tidak seperti di AS, 
Sedangkan di negara-negara Asia, setiap orang harus berusaha dengan keras agar bisa sukses, harus menjadi yang terbaik, karena rata-rata negara berkembang, Asia masih harus mengejar sukses itu. Kalau anak-anak tidak dipersiapkan dengan sangat baik, bagaimana bisa bersaing? Berbeda dengan di AS atau Eropa yang menurut mereka, hidup lebih mudah, sehingga anak-anak pun dibebaskan kreatif, tidak ada tekanan untuk menjadi yang terbaik.

Naah gaya-gaya Asia ini pasti mengingatkan kita sama masa kecil kita yaaa, pas kecil  saya sekolah di sekolah Katolik, jangan harap bisa pulang kalau belum hapal perkalian.. pe er matematika pun berjibuun..
Makanya ada kecenderungan bahwa saya nggak ingin anak saya menjadi penghapal seperti itu, saya ingin anak saya bisa paham juga konsepnya matematika, tidak sekedar jadi robot. Namun kalau menurut penulis asal kita bisa juga menanamkan konsep matematika selain menghapal tabel perkalian, maka drill and grill tidak salah juga...
Hmmmmm pe er nih buat para ortu.. selain ngasi latihan yang banyak untuk matematika, jangan lupa diajarin konsepnya juga.. Kalau di Singapura sih udah bagus katanya integrasinya ini... nah kalau di Indonesia pe er ya buat para ayah bunda "^^

Ada beberapa tips dari Penulis untuk menjadikan rumah kita "Math-Rich" diantaranya adalah :
- bermain board games seperti ular tangga dan monopoli
- memakai abakus/ sempoa
- memasukkan konsep matematika dalam keseharian, misalnya ketika berbelanja
- konsep visual spatial bisa dikenalkan via permainan lego
dan lain-lain

Oke 1 - 0 untuk East yaa..

#2 Membaca
Kalau menurut penulis soal membaca memang Western lebih unggul, karena menurutnya di AS sana sejak anak dalam kandungan dah dibacain cerita, anak bayi dibacain cerita, tiap malam reading itu wajiiib...
Gak sekedar reading, tapi bener-bener dibahas tuh buku... makanya ngga heran ya sebagian besar buku asalnya ya dari West sanaaa..
nah bedanya ama metode Asia, membaca itu kebanyakan hanya di permukaan aja, anak-anak Asia umur 5 tahun dah bisa membaca karena diajarkan membaca sejak kecil, mungkin kalo di Indonesia ya .. B  + A = BA, B + U = BU sejak dari TK, tapi mungkin kalau ditanya apa buku favoritnya dan ceritakan soal buku itu ngga bisa.. Beda dengan anak-anak Western yang sudah punya buku favorit sejak kecil.
Saya yang termasuk agak sering membacakan cerita pun akhirnya ngetes kakak dengan pertanyaan "apa buku favorit kakak?" dan ternyata jawabannya "buku menulis",... jawaban yang tidak diharapkan .. :D , setelah diarahkan baru deh jawab.. "Cerita Snow White" 
hmmm berarti saya kurang sering bacainnya ya.. hehehe "^^

Di Asia memang kebanyakan anak diajar membaca karena ya membaca itu penting untuk bisa belajar.. thats it.. tapi tidak secara mendalam, apalagi memahami sastra.. mendiskusikan buku dan nilai-nilainya, tidak diajarkan mencintai buku.
Saya cukup beruntung ketika dulu sempat ikut papa tugas belajar di Inggris, mencicipi budaya membaca yang sangat bagus.. Setiap pagi setelah assembly, semua murid dikumpulkan untuk dibacakan buku dan hal itu yang membuat dalam 3 bulan saya langsung bisa mengerti bahasa Inggris tanpa kursus macem-macem.. tapi ya namanya masih umur 10 tahun masih seperti spon kali ya otak. Saya juga menikmati sering ke perpustakaan untuk meminjam buku :), disitu waktu ke perpustakaan adalah saat yang sangat ditunggu-tunggu.
Nah tantangan dunia jaman sekarang, buku mendapat persaingan yang sangat banyak, seperti gadget, socmed, dan games.. ini tantangan kita sebagai orang tua. 
Orangtua disarankan tetap memberikan buku yang kertas dan bukan ebook, karena ebook di gadget dan membuat anak tidak fokus membacanya.. malah nanti ngegame..

Disini penulis menekankan kembali bahwa buku itu memang jendela dunia, buku bisa membawa kemana aja.. dan cinta akan buku bisa membawa seorang anak lebih memiliki banyak kosakata dan lebih berpengetahuan... 

Ada beberapa tips agar rumah kita "language-rich"
- Kelilingi anak-anak dengan buku bagus
- Berikan teladan bahwa membaca itu menyenangkan
- Bacakan buku setiap hari 
- Jadi anggota perpus 
- Jangan marahi anak ketika asik membaca buku, misalnya dengan mengatakan ngapain baca buku terus.. karena mungkin disaat itu dia lagi berpetualang dalam pikirannya.
Dan lain -lain

Ada tips juga buat para ortu ketika mencari sekolah anak yaitu selain melihat fasilitas sekolah seperti lapangan bermain, lab komputer, dll, cek juga ada ngga perpustakaannya..
Hmmmm .. Noted :)

Soo... 1-1 buat East vs West

Oke karena anak-anak udah cranky minta bobo.. sekian part 1..
semoga bisa dilanjut part 2 nya yaa.. 



Saturday, February 27, 2016

Nugget Ayam ala ala :)

Ah dah lama dianggurin nih blog, saking lagi galau maksimal, mau nulis apaan aja jugak malesss..
ya udah share alias nyatet resep aja ya.
My little helper




Bisa disimpan di freezer 




Nugget Ayam

Bahan -bahan :

200 g ayam cincang
1 butir telur dikocok lepas
1 buah bawang bombay kecil cincang halus
1 buah bawang putih besar cincang halus
garam, merica, gula secukupnya
3 sdm tepung roti
4 sdm tepung sagu
keju cheddar parut secukupnya
1 buah wortel kecil cincang halus

Cara memasak :
1. Guampill bingitsss.. semua bahan campur jadi satu dan aduk aduk , kecuali telur dan tepung roti.
2. Setelah semua tercampur baru tambah telur dan aduk lagi, setelah itu tambahkan tepung roti sedikit demi sedikit sampai adonan aga padat.
3. Letakkan di pinggan atau alumunium foil dan kukus sampai matang sekitar 30 menit .
4. Setelah matang, dinginkan dan potong kotak- kotak.

Bisa langsung dihidangkan atau disimpan dalam freezer.
Ketika akan dimakan bisa ditabur kembali dengan tepung roti dan di goreng .

Prep time 20 - 30 menit ; cook time 30 menitan

Met makan kiddos :)

*resep hasil copy, paste and modify dari www.mommiesdaily.com 

Saturday, January 9, 2016

Refleksi tahun 2015

Tahun 2015 kemarin, selain menjadi tahun yang super sibuk dengan adanya anggota keluarga baru dan pekerjaan yang dikejar-kejar target, juga menjadi tahun refleksi dalam beberapa hal.

Adalah memang hobi saya mengamati sifat seseorang.. kadang heran sih kenapa saya suka mengamati orang.. kepo banget kali ya.. hehehe

Tapi bukan mengamati dalam hal usil sih sepertinya, tapi lebih ke arah hal apa sih sebenarnya yang melatar belakangi seseorang bisa bersikap seperti yang ditunjukkan di luar nya. Bagaimana upbringingnya dulu oleh keluarganya, mempengaruhi cara berpikir dan bersikap nya saat dewasa.

Jangan-jangan sebenernya saya tuh cocoknya jadi psikolog ya ... hehehehe

Anyway mikir-mikir dan refleksi-refleksi ini suka saya lakukan ketika menyetir sendirian di mobil.. Well saya menyetir sendirian itu kan relatif sering ya.. berangkat dan pulang kerja serta berangkat dan pulang pas makan siang di rumah :) so 4 kali jalan sehari, masing-masing 30 menit.. lumayan lah ya buat day dreaming 2 jam totalnya..
Dan karena gak macet jalanannya, daydreaming nya suka lumayan lancar.

Yang suka saya pikir sendirian adalah.. now what? dalam artian.. setelah kerja saat ini, so what? what is my grand design? what is my purpose?
Suka iri sama orang yang sudah menemukan passionnya.. klik nya dalam hidup, sudah menemukan "aha" momentsnya,  sedangkan saya kadang ya hanya menjalaninya. Trus mikir juga, apa sih sebenernya yang salah?
Kenapa beberapa orang bisa menemukan klik nya itu, dan beberapa orang sampai akhir hidupnya hanya menjalaninya aja..
Well, dari hasil permenungan saya ini saya merasa lingkungan dan pengasuhan saat kita kecil adalah salah satu yang membentuk pribadi kita, tentu aja selain sifat dasar kita.
Nah beberapa anak sangat beruntung bisa diasuh dan diarahkan untuk menemukan passionnya,
tidak hanya dididik untuk bisa calistung, untuk bisa rangking di kelas, untuk bisa masuk univ negeri.

Bukan salah orang tuanya juga 100% karena setiap orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya, dan mungkin adalah hal yang lumrah kalau setiap orang tua mau anaknya bisa pinter masuk univ negeri. Tapi dengan dunia yang makin berkembang, pinter aja ngga cukup untuk bisa bertahan..
You need something to define who you are..

Saya mengamati sifat saya dan suami saya, perbedaan kami dalam beberapa hal.. Saya orangnya sangat tekun dan persisten, sepertinya karena selain menurun dari sifat ayah saya yang sangat workaholik, namun memang itu lah yang saya lihat sehari-hari darinya.. Children see, children do.

Saya pun waktu single bisa jadi sangat workaholik.

nah suami saya itu sangat supel orangnya, selain menurun dari sifat orangtuanya, juga karena orangtua nya pun sangat aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial.. Suami saya semasa kecil pasti melihat orang tuanya banyak bergaul dan bersosialisasi, otomatis dia pun begitu.. Children see, children do.

Nah saya karena ayah sibuk, keluarga saya jarang sekali datang ke acara-acara sosial.. istilah kerennya dulu kurang gaul lah.. hahahaha.. makanya waktu kecil saya pun pemalu, mungkin sampai kuliah saya itu pemalu. Karena tidak diberi contoh bagaimana bersosialisasi.
padahal...
dari hasil test finger print yang iseng-iseng saya lakukan (yang katanya bisa mengetahui sifat asli seseorang), saya ini aslinya extrovert.. jadi tidak pemalu.. tapi upbringing dalam keluarga yang tidak terlalu gaul, maka yang lebih muncul malah pemalunya waktu kecil.

Hal ini pun saya amati di anak perempuan saya, dia tidak pemalu..
Yah mungkin dia liat ayah bundanya punya pergaulan dan lingkaran sosial yang cukup luas. Dia sering kami ajak ke acara-acara bersama teman-teman kami. Children see, children do.

pointnya adalah, memang setiap keluarga punya cara sendiri dalam mengasuh anak, tergantung circumstancesnya.. ada yang positif, ada juga yang mungkin negatif.

Namun jika kita menyadari hal-hal yang negatif yang mungkin ada dalam keluarga kita, kita bisa berusaha meminimalkannya.
Sadar ... kita bukan manusia sempurna, bukan orangtua sempurna.. pastilah ada hal negatif , hal yang kurang baik dalam diri kita..

Akhir refleksi, dengan saya dan suami memiliki cara upbringing yang berbeda.. kita ambil positifnya dari tiap upbringing..
Different characters and values,

Hal-hal ini yang coba saya selalu ingat,

- Ciptakan selalu suasana rumah yang kondusif, yang menyenangkan.
- Dekat dengan anak, dorong mereka menjadi pribadi yang pede dan kritis.
- Tiap anak berbeda, bantu mereka menemukan keunikannya. Semoga dengan ini anak-anak saya lebih baik dari orang tuanya nanti, bisa menemukan "aha" momentnya.
- Contohkan kesederhanaan
- On money "Don't give them everything, Make them value money"
- Make them SUFFER, once in a while karena kenyamanan mematikan kreatifitas.
- Tunjukkan kasih sayang diantara ayah dan bundanya.. karena anak-anak akan nyaman bila melihat ortunya saling menyayangi.

Sepertinya sekian dulu permenungan untuk 2015 :)



Tuesday, January 5, 2016

Selamat Tahun Baru 2016 - Saatnya keluar dari Comfort Zone


Tampilan blog baru :)

Foto narsis juga baru dong ...
Semoga tahun ini juga semangat masih terus membara.

Tahun 2016 ini banyak tantangan di depan mata,
Tersadar dengan putaran roda dunia ini.
Awalnya sempat galau, sempat agak sedikit kaget, bingung mau gimana.

Tapi Puji Tuhan diingatkan kembali bahwa apapun yang terjadi Tuhan pasti beserta kita,
Kita manusia pilihan Allah, sudah diperlengkapi dengan akal yang sedemikian hebat, tinggal bagaimana kita mau menggunakan akal kita, mengambil setiap kesempatan yang datang, bahkan menciptakan kesempatan itu sendiri.

Gunakan segenap kemampuan, segenap keinginan ..

Tahun 2016,
Saatnya keluar LAGI.. dari zona nyaman.. saatnya mencoba sesuatu yang baru,
menata kembali prioritas hidup.

Kalau diingat-ingat, ngapain takut dengan hal baru?
Ngapain takut keluar zona nyaman.. sudah dari dulu selalu harus mencoba hal baru, sudah dari dulu selalu ditantang..

Sekarang emang agak keenakan sih jadi agak takut awalnya.. hehehe

Mari saatnya menempa kembali mental dan otak ini.. :)

Selamat Tahun Baru 2016

Tetap bersyukur, tetap sederhana, tetap memberikan yang terbaik.


Saturday, September 5, 2015

Seminar Parenting - Komunikasi Pengasuhan Anak

Yuhuuu..

Mau posting sedikit ilmu yang saya dapat dari Seminar Parenting Komunikasi Pengasuhan Anak dengan pembicara Ibu Elly Risman, Psi yang diadakan 29 Agustus lalu.
Anyway, awalnya sih emang cuman penasaran aja ama Elly Risman karena sering banget denger namanya sebagai salah satu psikolog anak yang suka wara wiri di radio dan ngasi seminar di mana-mana soal parenting. Dan juga salah satu psikolog Indonesia pertama yang sepertinya memberikan sedikit awareness mengenai pengasuhan anak di era digital serta bahaya pornografi pada otak anak.

So ketika tau ada seminar ini dan pas waktunya sepertinya saya pas lowong, ya udah daftar deh..
Gak ada sekolah jadi orang tua, jadi kalo pas sempet gini ya selalu usahain buat nambah ilmu.

Ulasan ini adalah  sebagian ilmu yang saya peroleh dari Ibu Elly dan offcourse saya tambah2in dikit pendapat saya :)
So tidak semua pendapat Ibu Elly ya ..
(Bikin disclaimer karena dunia maya suka aneh2)

Yang pertama kali dibahas adalah bagaimana banyak orang tua tidak siap ketika memiliki anak, karena ya jujur aja dalam kultur Indonesia biasanya setelah menikah langsung "dituntut" punya anak. Padahal mungkin banyak pasangan yang awalnya ingin menunda dahulu.. atau ya emang belum siap aja.Punya anak kan berarti mau melepaskan ego kita untuk hadirnya jiwa lain..
Dengan ketidaksiapan sebagai orang tua maka kita tidak menguasai 2 hal yaitu : Tahapan perkembangan anak dan tidak tau bagaimana cara otak bekerja yang nantinya berpengaruh pada kepribadian dan masa depan anak. Contohnya adalah karena kita tidak tau hal diatas maka kita sebagai orangtua sering memaksa anak untuk belajar sebelum waktunya.. misalnya calistung di usia dini, sekolah SD sebelum 7 tahun. Dimana menurut Ibu Elly, di umur sebelum 7 tahun itu otak anak belum siap untuk menerima materi-materi sekolah SD. Yang emang pelajaran SD jaman sekarang itu udah susah lho..
Menurt Ibu Elly ada bagian otak, antara otak kanan dan kiri yang belum nyambung pas usia 5 tahun itu.. (ini klo saya gak salah tangkep ya, maklum duduk belakang karena hampir telat :D).
Hmmmm ada benernya ya sepertinya, karena sering banget baca artikel-artikel dimana anak-anak Asia atau Indonesia kali ya.. pinter-pinter di awal, di SD, SMP, SMA bisa jadi juara olimpiade macem-macem karena dari kecil udah di "drill" otaknya untuk bisa membaca, berhitung, ngapain ini itu  dan bla bla bla dari kecil, tapi ketika besar ngga banyak yang akhirnya bisa menjadi pemenang hadiah Nobel. Sedangkan di Negara Barat, ngga segitunya anak kecil dah disuruh les berhitung, membaca, dan mungkin gak boleh juga 5 tahun masuk SD. Nah otaknya lebih berkembang optimal, dan ketika dewasa bisa lebih berpengetahuan.. ibaratnya "we think we know so much but we understand so little".
Yah tau sendiri di Indonesia kebanyakan ngapalin kali yee dari kecil :(.

Anyway baru tau juga ada orangtua yang sengaja men-cutikan anaknya selama satu tahun setelah TK B bila anaknya masih kekecilan. Agar pas masuk SD dah 7 tahun.
Emang sih masih pro kontra soal ini.. gimana kalo emang anaknya dah siap? kalo emang anaknya pinter? Kan tiap anak beda-beda ya kan?
Perlu lebih banyak penelitian mendalam tentang ini sepertinya.
Dann..  balik lagi pada orang tuanya.. Ortu yang paling kenal anaknya. Harusnya bisa tau apa emang si anak ini udah siap apa belom masuk SD sebelum 7 tahun, karena pinter aja gak jaminan juga sang anak siap secara mental dan emosional. Malah mungkin ketidaksiapan mental dan emosional itu yang bahaya kalo anak kecepetan masuk SD. Emang mungkin si anak dah bisa calistung, tapi kalo anaknya masih pengen main aja gimana?
Ibu Elly mengingatkan bahwa dunia anak itu ya main, main dan main.. dengan main sang anak belajar.. so mengapa mencabut dunia main itu terlalu dini dari anak?
Ini pe-er juga sih buat saya sebagai orang tua yang kadang-kadang kalo lagi timbul tiger mom mode on , tetiba nge'drill" si kakak untuk bisa membaca.. Saya lupa dunia nya adalah main, main dan main.. yang kalau saya mau ajarin baca ya harus dengan bermain se fun mungkin dan tidak memaksanya di usianya yang masih 4 tahun.
Pernah baca artikel juga.. Gak ada bedanya pas udah sekolah tingkat2 SMP atau SMA, anak yang 2 tahun dah bisa baca dengan yang 6 atau 7 tahun baru membaca :)
Belum tentu yang usia 3 tahun bisa membaca jadi anak yang gemar membaca kalau ortunya gak suka baca buku.. sukanya main gadget mulu.. JLEB JLEB..
berapa buku yang sudah dibaca tahun ini bapak dan ibu?


Oke mengenai materi komunikasinya sendiri,
Akibat kita suka salah bicara pada anak maka bisa melemahkan konsep diri anak, membuat anak diam, melawan dan menentang, tidak perduli dan sulit bekerja sama. Menjatuhkan harga diri anak dan kepercayaan diri anak. Kemampuan berpikir menjadi rendah. Tidak terbiasa memilih dan mengambil keputusan bagi diri sendiri, dan menjadi orang yang suka iri.
Contoh yang disampaikan adalah kalau kita punya anak masih kecil tapi ketika anak itu ditanya pilihan yang sederhana, yang biasanya setiap anak akan gampang menjawab seperti "Siang ini mau makan pizza atau burger?" tapi sang anak sering sekali menjawab "terserah". Itu adalah salah satu tanda-tanda bahwa kita sudah salah dalam berkomunikasi pada anak sehingga ia menjadi tidak terbiasa memilih, tidak bisa mengambil keputusan yang sangat sederhana, dan kemampuan berpikirnya rendah.
Buat saya masuk akal juga sih... karena anak2 biasanya kan maunya dituruti segala kemauannya.. kalo kebanyakan terserah berarti harus dikulik lagi tuh anak kenapa kaya males2an gitu.

Terus Ibu Elly menyampaikan ada 10 kekeliruan dalam komunikasi
1 .Bicara tergesa -gesa . Contohnya kalau pagi hari kita membangunkan dan menyuruh anak kita sekolah.. biasa ibu-ibu akan cerewet luar biasa.. padahal si anak juga kagak denger.. :D :D.. ya itulah semua serba tergesa-gesa.. anak kecil harus ngikutin jadwal orang dewasa yang gak sabaran.. padahal dunia anak adalah main, main dan main..
2. Tidak kenal diri sendiri : Orang tua pun kadang tidak mengenal siapa dirinya sendiri, kekurangan dan kelebihan kita. Kita harus kenal diri sendiri dahulu sebelum bisa berkomunikasi dengan baik dengan anak.. oke bagian ini saya agak lost :D
3. Lupa, setiap individu UNIK. Setiap anak unik.. Gaya komunikasi ke si Sulung mungkin tidak akan bisa diterapkan ke si Bungsu, karena mereka berbeda.. so ortu harus mengenal anaknya agar gaya bicara kita pun bisa disesuaikan ke sifat anak. Karena kalau kita sudah mengenali keunikan anak dan kita bisa berbicara dengan baik ke mereka, pasti pesan kita akan mudah tersampaikan. Contoh sederhana, ketika anak laki-laki pulang sekolah, cukup sampaikan pesan yang singkat-singkat seperti "cuci kaki, tangan, taro tas, ganti baju dan makan ya" . kalau ke anak perempuan bisa " cuci kaki yang bersih ya, tas nya taro di lemari dalam, ganti baju pakai kaos yang merah itu bagus ya.. trus makan, hari ini bunda masak sayur asem sama balado telur". Kalau anak lelaki pesannya terlalu banyak gak akan nyampe juga ke otaknya :D
4. Pebedaan Needs dan Wants.. disini saya lost lagi :D
5, 6 dan 7. Tidak membaca bahasa tubuh, tidak mendengar perasaan dan kurang mendengar aktif. Contohnya adalah ketika anak kita berbuat salah seperti tidak membawa pe -er, kemudian dia pulang sekolah langsung kita marah-marah. Padahal sang anak dah cukup bête juga disekolah habis disetrap, nah apalagi di rumah dimarahin lagi.. Pasti semua nasehat orang tua ngga ada yang didengarkan. ortu seharusnya bisa membaca bahasa tubuh anak, ,mendengarkan dulu perasaannya. Nah nanti ketika situasinya sudah enak, emosi anak juga sudah tidak meluap-luap, maka disitulah kita bisa berbicara hati ke hati. Menasihatinya bakal lebih didenger deh. nah ini pasti butuh latihan, karena sebagai ortu juga kita manusia yak.. klo anak salah mauny langsung kita bilangin, kita omelin, kita nasehatin.. esmosi bok esmosi.. butuh latihan lah buat sabar2.
8. Menggunakan 12 Gaya Populer
 - Memerintah : ayo kak, cepet sikat gigi!!
- Menyalahkan : tuh kan mama bilang apa? gak dengerin mama sih makanannya jadi tumpah semua
- Meremehkan : kakak pasti gak bisa deh, orang hari ini makannya dikit banget, pasti lemes gak bisa manjat itu
- Membandingkan : Adek kok gitu aja gak bisa? tuh liat temennya semua dah pada selesai..
- Mencap (label) : Emang kakak ini kalo makan lama banget. Tukang ngemut. Ibu Elly mengingatkan.. cap pada anak itu di hati lho.. susah ngilanginnya... kalo cap di muka gampang tinggal cuci muka.. JLEB JLEBB JLEEB..
- Mengancam : ayo cepat kak, nanti mama tinggal aja kalau lama pakai sepatunya
- Menasihati (di waktu yang salah) : tuh kan makanya jangan lari-lari terus, sekarang jatuh tau rasa kan.. (padahal anaknya lagi meraung-raung abis jatoh dan kakinya luka)
- Membohongi : nanti kalau ngga ngerjain tugas bakal didtengin monster lho (hahaha.. contoh ini cheesy banget yak)
- Menghibur : OOh gapapa telah sedikit kita kan.. kan yang lain juga banyak yang telat tuh.. (padahal telat itu hal salah)
- Mengeritik : ih ngga gitu dong warnainnya, masa warna nya aneh-aneh gitu.. (padahal mah biarin aja anak-anak berkreasi kan, mungkin kalau ngasi saran bisa dengan cara lain)
- menyindir : Yaaah payah deh kakak ini..
- Menganalisa : memang kalau mama perhatikan, kakak ini bla bla bla, makanya jadi bla bla bla.. coba kakak ini bla bla bla, pasti akan bla bla bla..

hosh hosh.. banyak yak.. beberapa contoh adalah kesalahan komunikasi saya sendiri :(

Menurut Bu Elly, kalau ortu ngomongnya seperti itu terus, maka anak bisa lemah konsep dirinya seperti diuraikan diatas.

Lalu bagaimana kiatnya untuk memiliki komunikasi yang baik dengan anak?
1. Baca bahasa tubuh , jadi ada penelitian bahwa ketika kita berkomunikasi maka peranan bahasa tubuh 55%, kata-kata 7% dan nada suara 38%. Jadi make sure ketika berbicara dengan anak untuk menyampaikan pesan atau nasehat, bahasa tubuh kita yang hangat, tidak seperti menghakimi, atau orang marah-marah.
Bahasa tubuh tidak pernah berbohong. kaya di serial tivi kabel "Lie to me" ituloooh.
2. Dengarkan perasaannya , sebelum kita yang nyap nyap.. dengarkan dulu suara hati anak kita.. tebak perasaannya .. misalnya Kakak capek ya hari ini? makanya dari tadi belum mandi-mandi.. Tunggu jawabannya.. dan tebak lagi.. Sepertinya sih ini memang melatih anak kita untuk bercerita pada kita, dan semacam ice breaking.. jadi kita memancing anak bicara dulu, curhat.. sebelum kita yang nyap nyap..
3. Mendengar aktif.. jujur aja kadang kalo dengar orang ngomong kita suka ngga 100%, pikiran kemana2. Nah salah satu cara melatih kita menjadi pendengar aktif adalah mirroring.. jadi kita menjadi cermin dan menanggapi perkataan lawan bicara kita , dalam hal ini anak kita.. Contoh : Menanggapi dengan serius "ooo  gitu ya kak? jadi kakak hari ini laper".. "oooh ya ampuun.. kakak lupa bawa uang jajan"
4. Hindari 12 gaya popular diatas
5. Jangan bicara tergesa-gesa.. ingat bahwa kalo tergesa-gesa masuk kuping kiri keluar kanan.
6. Belajar untuk mengenali diri dan lawan bicara kita sebelum kita bisa berkomunikasi dengan baik.
7. Ingat terusss... Setiap anak UNIK.
8. Ini ada contoh bagaiman menyampaikan pesan kita..
  Mama/ papa ( perasaan orang tua) Kalau kamu (perilaku anak) karena (konsekuensi terhadap lingkungan, diri sendiri , oru).
Jadi ingat prinsip2 diatas.. jangan sampaikan pesan kala anak emosinya teranggu.. missal lagi nangis, lagi bête.. or lagi lapar... cari waktu yang pas.

Contoh.. kakak dan adik berantem. Ortu : HEEEEYY  JANGAN  berantem terus ya. Mama pusiiiiiiiiiing jadinya. Kalau ngga stop berantem mama cubit ya!!.

In a perfect world "Mama sedih kalau kakak sering berantem sama adik, karena nanti kalian bisa terluka"..  gitu kali ya contohnya..kemudian kakak dan adik berpelukan, minta maaf  dan mencium mamah :p

But its not a perfect worrrld right ??? dan ortu hanya manusia.. makanya kita hanya bisa berlatih, belajar, bersabar dan berdoa agar Tuhan memberi hikmat menjadi orang tua yang terbaik bagi anak-anak kita.

Happy parenting :)





 

Tuesday, September 1, 2015

Hari ini ada karena....

Hari ini ada karena...
Jumpa kita di Raker Pengurus KMK UI tahun 2001

Hari ini ada karena...
Modus kegiatan bersama  KMK UI dan KUKSA MIPA

Hari ini ada karena...
Sekretariat KUKTEK UI disalahgunakan untuk nembak

Hari ini ada karena...
Berjam-jam waktu  yang dibuang di Wartel dan Telepon Koin

Hari ini ada karena...
Perjalanan panjang angkot D02 dan obrolan kita

Hari ini ada karena...
Kita tak pernah sepakat siapa yang mengajak nonton Film PEARL HARBOR

Hari ini ada karena...
Jarak yang memisahkan antara Pangkalan Kerinci dan Cikarang

Hari ini ada karena...
Kita pernah kurus bersama dan tak punya apa-apa

Hari ini ada karena...
Tawa dan tangis

Hari ini ada karena...
14 tahun lalu kamu menjawab "MAU"

Hari ini ada karena...
Doa dan Pengharapan

Hari ini ada karena...
Masih luas bentang hari kita bersama

Selamat memperingati hari jadian. xoxoxo...