Family 3

Family 3
Just The Four of Us

Saturday, January 9, 2016

Refleksi tahun 2015

Tahun 2015 kemarin, selain menjadi tahun yang super sibuk dengan adanya anggota keluarga baru dan pekerjaan yang dikejar-kejar target, juga menjadi tahun refleksi dalam beberapa hal.

Adalah memang hobi saya mengamati sifat seseorang.. kadang heran sih kenapa saya suka mengamati orang.. kepo banget kali ya.. hehehe

Tapi bukan mengamati dalam hal usil sih sepertinya, tapi lebih ke arah hal apa sih sebenarnya yang melatar belakangi seseorang bisa bersikap seperti yang ditunjukkan di luar nya. Bagaimana upbringingnya dulu oleh keluarganya, mempengaruhi cara berpikir dan bersikap nya saat dewasa.

Jangan-jangan sebenernya saya tuh cocoknya jadi psikolog ya ... hehehehe

Anyway mikir-mikir dan refleksi-refleksi ini suka saya lakukan ketika menyetir sendirian di mobil.. Well saya menyetir sendirian itu kan relatif sering ya.. berangkat dan pulang kerja serta berangkat dan pulang pas makan siang di rumah :) so 4 kali jalan sehari, masing-masing 30 menit.. lumayan lah ya buat day dreaming 2 jam totalnya..
Dan karena gak macet jalanannya, daydreaming nya suka lumayan lancar.

Yang suka saya pikir sendirian adalah.. now what? dalam artian.. setelah kerja saat ini, so what? what is my grand design? what is my purpose?
Suka iri sama orang yang sudah menemukan passionnya.. klik nya dalam hidup, sudah menemukan "aha" momentsnya,  sedangkan saya kadang ya hanya menjalaninya. Trus mikir juga, apa sih sebenernya yang salah?
Kenapa beberapa orang bisa menemukan klik nya itu, dan beberapa orang sampai akhir hidupnya hanya menjalaninya aja..
Well, dari hasil permenungan saya ini saya merasa lingkungan dan pengasuhan saat kita kecil adalah salah satu yang membentuk pribadi kita, tentu aja selain sifat dasar kita.
Nah beberapa anak sangat beruntung bisa diasuh dan diarahkan untuk menemukan passionnya,
tidak hanya dididik untuk bisa calistung, untuk bisa rangking di kelas, untuk bisa masuk univ negeri.

Bukan salah orang tuanya juga 100% karena setiap orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya, dan mungkin adalah hal yang lumrah kalau setiap orang tua mau anaknya bisa pinter masuk univ negeri. Tapi dengan dunia yang makin berkembang, pinter aja ngga cukup untuk bisa bertahan..
You need something to define who you are..

Saya mengamati sifat saya dan suami saya, perbedaan kami dalam beberapa hal.. Saya orangnya sangat tekun dan persisten, sepertinya karena selain menurun dari sifat ayah saya yang sangat workaholik, namun memang itu lah yang saya lihat sehari-hari darinya.. Children see, children do.

Saya pun waktu single bisa jadi sangat workaholik.

nah suami saya itu sangat supel orangnya, selain menurun dari sifat orangtuanya, juga karena orangtua nya pun sangat aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial.. Suami saya semasa kecil pasti melihat orang tuanya banyak bergaul dan bersosialisasi, otomatis dia pun begitu.. Children see, children do.

Nah saya karena ayah sibuk, keluarga saya jarang sekali datang ke acara-acara sosial.. istilah kerennya dulu kurang gaul lah.. hahahaha.. makanya waktu kecil saya pun pemalu, mungkin sampai kuliah saya itu pemalu. Karena tidak diberi contoh bagaimana bersosialisasi.
padahal...
dari hasil test finger print yang iseng-iseng saya lakukan (yang katanya bisa mengetahui sifat asli seseorang), saya ini aslinya extrovert.. jadi tidak pemalu.. tapi upbringing dalam keluarga yang tidak terlalu gaul, maka yang lebih muncul malah pemalunya waktu kecil.

Hal ini pun saya amati di anak perempuan saya, dia tidak pemalu..
Yah mungkin dia liat ayah bundanya punya pergaulan dan lingkaran sosial yang cukup luas. Dia sering kami ajak ke acara-acara bersama teman-teman kami. Children see, children do.

pointnya adalah, memang setiap keluarga punya cara sendiri dalam mengasuh anak, tergantung circumstancesnya.. ada yang positif, ada juga yang mungkin negatif.

Namun jika kita menyadari hal-hal yang negatif yang mungkin ada dalam keluarga kita, kita bisa berusaha meminimalkannya.
Sadar ... kita bukan manusia sempurna, bukan orangtua sempurna.. pastilah ada hal negatif , hal yang kurang baik dalam diri kita..

Akhir refleksi, dengan saya dan suami memiliki cara upbringing yang berbeda.. kita ambil positifnya dari tiap upbringing..
Different characters and values,

Hal-hal ini yang coba saya selalu ingat,

- Ciptakan selalu suasana rumah yang kondusif, yang menyenangkan.
- Dekat dengan anak, dorong mereka menjadi pribadi yang pede dan kritis.
- Tiap anak berbeda, bantu mereka menemukan keunikannya. Semoga dengan ini anak-anak saya lebih baik dari orang tuanya nanti, bisa menemukan "aha" momentnya.
- Contohkan kesederhanaan
- On money "Don't give them everything, Make them value money"
- Make them SUFFER, once in a while karena kenyamanan mematikan kreatifitas.
- Tunjukkan kasih sayang diantara ayah dan bundanya.. karena anak-anak akan nyaman bila melihat ortunya saling menyayangi.

Sepertinya sekian dulu permenungan untuk 2015 :)



No comments:

Post a Comment